Langsung ke konten utama

Sifat Penghulu Nan Ampek

Ilustrasi Gambar: Suduik Minang


Sifat Penghulu Nan Ampek
Seorang penghulu/ niniak mamak sebagai pemimpin dalam lingkungan kaum suku, korong kampuang dan Nagari di Minangkabau harus mempunyai beberapa persyaratan khusus berupa sifat-sifat yang baik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam petuah adat Minangkabau seorang penguhulu / ninik mamak harus memiliki 4 sifat utama yang merujuk kepada sifat kepemimpinan Nabi Besar Muhammad SAW, yang disebut dengan Sifat penghulu nan ampek yaitu :
1. Siddik (Bana / Benar)
Seorang penghulu /ninik mamak sebagai seorang pemimpin mutlak harus memiliki sifat yang benar (siddik), karena ia merupakan panutan oleh anak kemenakan, makanya seorang penghulu dalam berfikir, berbuat, dan bertingkah laku harus benar. Tidak boleh seorang penghulu memiliki sifat bohong dan dusta, karena kepadanya diserahkan segala persoalan hidup anak kemenakan, baik lahir maupun bathin.

Seorang penghulu yang tidak benar pasti akan mempergunakan kepemimpinan untuk hal yang tidak benar, yang bertentangan dengan ketentuan adat dan syarak di Minangkabau. Kalau seorang penghulu yang tidak memiliki sifat Siddik ini maka dia tidak berhak untuk menjadi penghulu / ninik mamak, karena kebenaran itu adalah syarak mutlak bagi seorang penghulu/ninik mamak di Minangkabau. Kaedah adat tentang hal ini menyatakan :

Bajalan luruih bakato bana
Jalan luruih alua tarantang
Luruihnyo Manahan tiliak
Balabeh Manahan cubo
Bantuak dimakan siku-siku.

Basilang tombak dalam parang
Baribu batu panarung
Parik tabantang manghalangi
Tatagak paga nan kokoh
Badindiang sampai kalangik
Baampang sampai ka subarang
Namun bana dianjak tidak.

2. Tabligh (Menyampaikan)
Sebagai pemimpin terhadap anak kemenakan, penghulu harus mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan anak kemenakan yang dipimpinnya. Dalam menjalankan tugasnya memelihara anak kemenakan agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan adat dan agama, kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik sangat diperlukan oleh seorang penghulu, kalau tidak seorang penghulu akan mengalami kegagalan dalam menjalankan tugasnya untuk memelihara anak kemenakan menjadi manusia yang baik dan berbudi pekerti yang tinggi.

Demikian pula halnya dalam kehidupan berkorong berkampung, basuku dan banagari, kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik sangat diperlukan oleh seorang penghulu, kalau tidak bagaimana mungkin seorang penghulu akan dapat memperjuangkan kepentingan anak kemenakan dan kaumnya dalam kehidupan berkorong berkampung dan bernagari.

3. Amanah (dipercaya)
Seseorang dipilih menjadi penghulu untuk memimpin kaumnya diseleksi dari seluruh anak kemenakan yang berhak menurut adat, yaitu yang mempunyai kepribadian yang baik dan sempurna serta mempunyai sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dengan kata lain dia harus dipercaya lahir dan bathin oleh seluruh anggota kaum dan sudah barang tentu timbul dari pancaran kepribadian yang baik yang dimilikinya. Tanpa kepercayaan dari anggota kaum, maka seorang penguhulu akan mengalami kegagalan dalam memimpin anak kemenakan yang ada dalam kaumnya., Untuk itu seorang penghulu yang telah mendapat kepercayaan dari anak kemenakannya harus mampu menjaga dan memelihara kepercayaan yang diberikan tersebut, yaitu dengan cara menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai dengan ketentuan adat dan syarak di Minangkabau.

4. Fathanah (Cerdas)
Disamping sifat seperti yang telah diuraikan diatas, sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang penghulu yaitu harus mempunyai kecerdasan, seorang penghulu harus mempunyai ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas serta harus memahami dan mengetahui tentang seluk beluk adat Minangkabau basandi Syarak. Tanpa kecerdasan sangat mustahil seorang akan dipercaya untuk mampu memimpin kaum, suku, korong, kampuang dan nagari. Dia akan gagal dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai seorang pemimpin. Seluruh kecerdasan yang dimiliki oleh seorang penghulu dipergunakan untuk melindungi anak kemenakan suku, korong kampuang dan nagarinya seperti yang dikatakan oleh ungkapan adat :

Kaluak paku kacang balimbiang
Tampuruang lenggang lenggokkan
Baok manurun ka saruaso
Tanamlah siriah jo ureknyo

Anak dipangku kamanakan dibimbiang
Urang kampuang dipatenggangkan
Tenggang nagari jan binaso
Tenggang sarato jo adatnyo.
Bersambung.....

Disalin dari kiriman FB: Irwan Effendi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...