Langsung ke konten utama

Mempertanyakan kebenaran sejarah Ekspedisi Pamalayu versi Yamin



 *Mempertanyakan kebenaran sejarah Ekspedisi Pamalayu versi Yamin, sebagai penaklukan Sumatera oleh Singhasari*

Situasi Dharmasraya di paruh kedua abad ke 13 :
Tulang punggunng lerekonomian Kerajaan Dharmasraya sangat tergantung kepada aktifitas perdagangan disepanjang Jalur Sutra Maritum.
Semenjak berdirinya di awal ke 12 menggantikan Kerajaan Sriwijaya dari Dinasti Sailendra, Dharmasraya, secara Politik adalah sekutu Cina dibawah Dinasti Song. Runtuhnya Dinasti Song akibat serbuan Mongol berarti malapetaka bagi Dharmasraya. Dinasti Yuan yang menggantikannya sepertinya lebih tertarik mengembangkan Jaringan Jalur Sutra Darat, semenjak ekspansi Gengiz Khan yang memang dikontrol langsung oleh berbagai Kerajaan pecahan Gengis Khan itu.
Arus barang dari dan menuju ke Cina dalam volume besar jadi terhentii berakibat berkurangmya pemasukan untuk mandala mandalanya yang juga berfumgsi sebagai kota-kota pelabuhan utama. Akibatnya kontrol Pusat pemerintahan terhadap mandala2 nya jadi melemah. Dharmasraya kehilangan pengaruhnya hampir diseluruh koloninya diluar pulau Sumatera. Walau begitu kontrol terhadap mandalanya yamg tersisa di Sumatera dan didukung oleh jaringan maritim penting di sepanjang laut cina selatan hingga Selat Karimata masih tetap stabil.
Pararaton memang menyebutkan ekspedisi Pamalayu berlangsung selama 9 tahun, sepertinya mereka salah time line nya seharusnya terjadi pada 1286-1295. Pamalayu memang terjadi 2 kali,tapi tidak langsung menyambung seperti itu. Pamalayu II terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.
Walau sedang tidak dalam masa terbaiknya, Apakah benar Singhasari pada periode itu memiliki kesempatan untuk melancarkan ekspedisi Pamalayu antara 1275-1284 secara mudah sebagai penaklukan atas nama persatuan sebagaimana yang digembar gemborkan itu?
Situasi di Singhasari di paruh kedua abad ke 13 :
Friksi internal di Jawa sebetulnya tidak lebih baik. Perang perebutan tahta terjadi terus menerus. Satu satunya cara untuk mempertahankan keutuhan Singhasari adalah dengan mengangkat raja kembar. Namun tidak seorangpun dimasa itu yang melupakan peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Dimasa itu tidak ada alasan khusus yang menjadi alasan khusus untuk menyerang Dharmasraya. Tidak ada provokasi sebelumnya; misalkan Kapal Jawa diganggu atau ditenggelamkan di salah satu pelabuhan yang dikontrol Dharmasraya. Atau utusan dari Jawa yang mendapat penghinaan. Soal masalah sengketa di perbatasan dan kontrol jalur laut, keduanya juga sudah terikat dalam perjanjian yang ada sebelumnya. Alasan penaklukan untuk persatuan tidak dikenal di era itu.
Jika benar terjadi Ekspedisi dimaksud, Raja yang mana yang menjadi komamdan tertinggi diantara Kertanegara atau Dyah Lembu Tal, siapakah yang memeganng komando tertinggi?
Situasi satu badan dengan dua kepala seperti itu tentu saja membingungkan dalam menentukan garis komando. Gelaran pasukan sebesar itu tentu saja mengundang kecurigaan. Sebab bisa saja malah dipersiapkan untuk menyingkirkan salah satu fihak dalam kerajan yang sudah terfragmen itu.
Berikut uraian faktanya :
(1) Walau sedang dalam masa puncaknya, situasi politik Kerajaan Singhasari tidak dalam kondisi ideal untuk melakukan ekspansi. Persatuan yang rapuh terjadi dengan jalan kompromi, Akibat dari tensi konflik yang tinggi, hanya bisa diredam dengan penunjukkan raja kembar mewakili kedua kubu yang punya sejarah panjang dendam turun temurun. Menurut Pararaton, Sejak 1250 hingga keruntuhannya Singhasari memiliki dua orang raja yang memerintah secara bersama-sama.
(2) Semenjak berdirinya pada 1222, Jawa pada periode Singhasari tidak pernah betul-betul stabil. Raja yang bertahta dapat dikudeta atau digulingkan setiap saat. Mempertahankan porsi pasukan dalam jumlah besar di Jawa dengan alasan keamanan tentu saja adalah prioritas utama Kertanegara dan Dyah Lembu Tal Dalam Dalam situasi seperti ini yang mungkin dilakukan adalah mempertahankan segala sesuatunya yg sudah ada dan diwariskan oleh pendahulunya. Akan berbeda jika Singhasari terlibat dalam perang-perang aliansi yang sifatnya didukung oleh negara-negara lainya. Tentumya resiko dan beban yang diambil akan lebih kecil, sebab segalanya akan ditanggung secara bersama sama.
(3) Dharmasraya, walau sedang memasuki masa kemunduran tetapi masih stabil dan tidak ada tanda tanda sedang dalam krisis terminal yang berujung pada kehancuran. Kekuatan militer berbasis maritim selama berabad-abad yang diwarisan sejak era Sriwijaya menjadi tulang punggung dalam mengahdapi musuh musuhmya. Akan menjadi lawan yang tidak mudah untuk dihadap apalagi ditundukkan. Pada saat Kertanegara mengirimkan sebagian besar pasukannya utk menghadapi Armada Cina atau dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu I (1286-1295). Hal ini Berarti meninggalkan Jawa dalam keadaan kosong melompong. Momen yang ditunggu tunggu kelompok oposisi di Jawa. Langsung dimanfaatkan oleh Jayakatwang untuk mengkudeta dirinya Jika situasi ini terjadi sebelumnya, kudeta yang dilakukan oleh Jayakatwang tentu saja akan terjadi lebih awal.
(4) Selain karena runtuhnya Dinasti Song, Disintegtasi Kerajaan Dharmasraya di paruh kedua Abad ke 13 disebakan friksi internal. Ligor, salah satu mandalanya yang berkedudukan di Tanah Genting, Semenanjung Malaya, Sekarang Tahiland Selatan menantang posisi Dharmasraya di Sumatera dan berkeinginan untuk menggantikannya. Sejak 1230 Dibawah Chandrabanu, Ligor berkembamg pesat Ia meluaskan pengaruhnya dengan menduduki Kedah, Lamuri (Aceh) dan Sri lanka di tahun 1247. Kemudian di tahun 1255 Ligor memutuskan hubumgan dengan Dharmasraya, mengangkat dirinya sebagai Maharaja dan membawa serta mandala mandala yang tersisa di Semenanjung Malaya. Alasan Dharmasraya, 'kemungkinan terjadi antara 1245-1255' dibawah 'Sang Sapurba' memindahkan pusat pemerintahnya ke Hulu Sungai Batang Hari adalah untuk menghindari ancaman dari Semenanjung bukan dari Jawa.
(5) Sejarah mencatat bahwa setiap serbuan Kerajaan dari Jawa ke Tanah Melayu selalu berakhir dengan kegagalan. Sebaliknya, serbuan Kerajaan dari Tanah Melayu ke Jawa selalu berakir dengan keruntuhan Dinasti yang pada saat itu sedang memerintah di Jawa. Sulit membayangkan kalau Armada dari Jawa dengan leluasa menusuk sampai ke jantung pertahanan Dharmasraya tanpa terlebih dahulu merebut atau dihalang halangi di oleh Armada Melayu di Bangka, Palembang, Jambi atau Temasik. Jantung pemerintahan Dharmasraya pada saat itu berada jauh di hulu Sungai Batang Hari. Posisinya terlindungi dengan sempurna, Berada jauh dipedalaman Pulau Sumatera dan hanya ada satu akses keluar masuk juga dikelilingi oleh hutan belantara yang lebat dan Pegunungan yang terjal. Adalah hal yang mustahil dalam waktu singkat dapat jatuh begitu saja.
(6) Kertanegara yang baru memasuki tahun ke tujuh Pemerintahanmya nekat menyerbu salah satu Kerajaan yang cukup kuat dan punya pengaruh luas seperti Dharmasraya adalah hal yang mustahil. Kalau sekedar ingin meluaskan wilayahnya, kenapa tidak yang dekat dulu saja? sebut saja Pajajaran masih berada didalam satu pulau. Coba bandingkan denga Dharmawangsa Teguh atau Hayam Wuruk yg menyerbu Sumatera melalui Palembang sebagai pijakan pertamanya. Terjadi ditahun ke pada masa pemerintahannya di mana kondisi dalam negri relatif stabil. Apakah di zaman iitu sudah ada strategi Blitzkrieg? Berapa jumlah total pasukan yang dibutuhkan? Logistiknya bagaiamana? Siapa yamg memimpin dari fihak Dharmasraya? Berapa jumlah korbannya?
(7) Menjadi cacat logika jika Singhasari yakni hanya kurang lebih hanya 8 tahun saja merangsek masuk ke hulu Sungai Batang Hari secara leluasa tanpa perlawanan yang berarti. Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Maulibuhusana Warmadewa tidak mungkin menyerah begitu saja lantas menyerahkan kedua puterinya sebagai tanda takluk kepada Raja Jawa. Dalam Adat Melayu hal ini adalah sebuah tindakan yang hina, pantang dilakukan oleh pembesar istana apalagi dilakukan oleh seorang Maharaja. Jika terjadi Maharaja Srimat pasti dilengserkan. Seorang Ksatria yang mengaku kalah perang tidak pantas lagi menyandang gelar kebesaran apalagi raja. Mundur dan mengasingkan diri adalah pilihan yang tepat. Akan lebih terhormat jika kedudukannya segera digantikan oleh Pangeran yang lainnya atau bila perlu sekalian menyerahkan mahkotanya kepada Raja Ligor yang masih memiliki akar Sosio-historis yang sama ketimbang dipaksa tunduk kepada raja dari 'negara lain'. Sulit untuk membayangkan kalau Singhasari memiliki sumberdaya untuk menggelar Ekspedisi ke Sumatera dalam skala besar sebanyak 2 kali dalam jangka waktu berturut turut.
(8) Jika betul Singhasari menyerbu Dharmasraya pada tahun 1275 sama saja bunuh diri, Tentunya sejarah akan mencatat kekalahan total Armada Singhasari. Ataupun jika sempat berhasil merebut beberapa kota bandar utama tentunya akan mendorong Dharmasraya lebih dekat dengan Cina dibawah dinasti Yuan, sebagaimana yang yerjadi sebelumnya. Dengan demikiam tidak akan mungkin terjadi aliansi bersama sama melawan Kubilai Khan. Yang mungkin terjadi justru Dharmasraya bersama Champa dan mungkin Ligor bersama sama Armada Yuan akan berbalik menyerang Jawa.
(9) Belakangan Majapahit betul betul menyerbu Dharmasraya. Peristiwa ini terjadi pada puncak kejayaan Majaphit di masa Hayamwuruk, diteruskan oleh Wikramawardana. Majapahit membutuhkan waktu hampir 40 tahun dengan susah payah Majapahit harus merebut satu persatu kota-kota bandar utama Mandala Dharmasraya seperti Palembang, Muaro Jambi, dan Temasik sebelum akhirmya menusuk hingga Lubuk Jambi (Padang Roco) menuju Melayupura. Kota yang didirikan oleh Adityawarman. Kota-kota yang berada dalam pendudukan tidak pernah dapat dikendalikan seutuhnya. Kekalahan telak Majapahit di Padang Sibusuk mengakhiri Ekspedisi Pamalayu II. Setelahnya Majapahit angkat kaki dari Sumatera kecuali mungkin sebagian kecil armadanya yang diitinggalkan di Palembang. Kegagalan dalam ekspedisi ini menjadi salah satu penyebab keruntuhan Majapahit.
(10) Dalam Ekspedisi Pamalayu II (1377-1409) yang sejarahnya coba ditutup-tutupi berakhir dengan kegagalan. Selanjutnya Majapahit memasuki fase kemunduran. Masalah klasik di Jawa 'perang perebutan tahta Jawa'' yang dikenal dengan Perang Paregrek semakin melemahkan Majapahit dari dalam. Setelah 1410 hanya Palembang saja yang masih dipertahankan Majapahit. Secara de jure [hukum], klaim Majapahit atas Palembang diakui oleh Cina dibawah Dinasti Ming,. Sedang de facto [kenyataannya] nya tidak pernah betul betul dikuasi layaknya Provinsinya Majapahit. Kronik Ming Shih mencatat Jawa meninggalkan begitu saja Pelmbang dalam kekacauan. Palembang dikabarkan malah jadi sarang bajak laut Tang terdiri dari pelarian orang orang dari Cina. Diantara mereka memilih para pemimpinnya sendiri, hal ini berlangsung seterusnya hingga Majapahit runtuh dan digantikan Demak Bintara.
Demikian
Kurang lebihnya saya mohin maaf

Disalin dari kiriman FB: Riff ben Dahl

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...