Langsung ke konten utama

Daerah Istimewa Sumatera Barat [DISB]


Pagi ini kami mendapati ranah maya riuh rendah dengan wacana Daerah Istimewa Minangkabau (DIM). Keinginan ini kembali mengemuka setelah beberapa tahun nan lampau pernah terdengar hal yang sama dan kemudian secara perlahan menghilang. Ramai orang menyahut, setuju dengan keinginan tersebut. 

Terkenang bilangan tahun nan silam "Kenapa nama propinsi kita tak bernama Propinsi Minangkabau?" ada yang mengemukakan pokok perbincangan baru. Bermacam-macam pendapat tentunya namun si penanya menjawab sendiri pertanyaannya "Karena tidak seluruh wilayah Minangkabau ini berada dalam wilayah propinsi ini.." (klik DISINI untuk melihat peta Minangkabau menurut salah satu tafsiran )

Belum ada yang berhasil menafsirkan isi tambo terkait batas-batas Alam Minangkabau. Yang ada ialah masing-masing fihak memiliki penafsiran tersendiri dengan dalil-dalil yang mereka yakini benar dan kuat untuk beragrumentasi.

Baiknya kami sertakan kutipan isi Tambo terkait batas-batas Alam Minangkabau dimaksud:

Dari Sirangkak nan Badangkang
Siluluak Punai Mati
Hinggo Buayo Putiah Daguak
Sampai ka Pintu Rajo Hilia
Taruih ka Durian Ditakuak Rajo
Dari Sipisau Pisau Anyuik
Sampai ka Sialang Balantak Basi
Hinggo Aia Babaliak Mudiak
Sampai Ombak Nan Badabua
Sailiran Batang Sikilang
Hinggo Lawuik Nan Sadidiah
Sampai ka Timua Ranah Aia Bangih
Taruih ka Rao jo Guguak Malintang
Pasisia Banda Sapuluah
Hinggo Taratak Aia Hitam
Sampai ka Tanjuang Simalidu
Pucuk Jambi Sambilan Lurah

Fenomena yang terjadi kemudian membuat jati diri (identitas) Minangkabau terkait batas-batas wilayah semakin membingungkan, termasuk bagi anak Minangkabau sendiri. Sengketa yang tak berkesudahan dengan orang-orang di wilayah Riau Daratan yang menolak disebut Orang Minangkabau. Tentunya dengan dalil-dalil yang mereka anggap kuat pula. 

Walaupun hampir semua elemen budaya yang mereka miliki menunjukkan ciri-ciri Minangkabau, seperti pertalian suku-suku, asal usul beberapa niniak, dan lain sebagainya, mereka dengan keras kepala menolak sebagai orang Minangkabau. Orang Minang yang di Sumatera Barat tentunya heran, karena daerah di sana ada yang masuk ke dalam salah satu luhak serta ada juga yang merupakan daerah rantau dari Minangkabau. 

Hal ini diperparah dengan kurangnya warisan pengetahuan terkait Minangkabau dan Melayu dari generasi lebih tua. Muncul beberapa orang yang beranggapan Minangkabau tidak sama dengan Melayu. Menurut mereka Minangkabau dan Melayu itu setara.

Sangat mencemaskan, karena ketiadaan pengetahuan membuat mereka dengan mudah, tergesa-gesa, angkuh dan congkak sembari membusungkan dada. Bagi orang-orang ini, Melayu itu ialah Riau dan Malaysia yang apabila bercakap mereka berbahasa layaknya Upin & Ipin. Disangkanya adat Negeri Melayu itu seragam, sama dengan negeri tempat ia merantau.

Atau sebaliknya, ada pula orang luar yang berkata kalau Minangkabau bukan Melayu. Salah satu alasannya karena Minangkabau menganut garis ibu sedangkan semua Melayu menganut garis bapak.

Sesungguhnya Melayu tak sesempit itu tuan..

Pada beberapa kalangan sudah lama sebuah narasi menyesatkan selalu diulang-ulang yakni Minangkabau yang disamakan dengan Sumatera Barat, Luhak yang disamakan dengan kabupaten dan hal tersebut tidak mendapat bantahan. Kalau terus dilanjutkan, tentunya tiga kota yang ada di Sumatera Barat bukan bagian dari Alam Minangkabau. Hal ini sangat mengemaskan dimana wilayah administrasi  pemerintahan moderen disamakan dengan wilayah kebudayaan, dampaknya ialah akan hilang jati diri Minangkabau itu pada akhirnya.

Dan sebagai pembenaran dari hal tersebut, kini Minangkabau akan diperkecil hanya sebatas Sumatera Barat. Lalu bagaimana dengan Orang Mentawai?

Syariat kita mengajarkan untuk berlaku adil, sudah adilkah kita kepada saudara-saudara kita orang Mentawai? Bagaimana bila mereka menuntut untuk bergabung sahaja dengan Sumatera Utara atau mendirikan Propinsi sendiri?

Hendaknya hal tersebut menjadi pemikiran bagi orang Minangkabau. Karena dengan masih bergabungnya Mentawai dalam Propinsi Sumatera Barat, kita telah menjaga dan menlindungi mereka.

Mentawai sangat menggoda bagi kebanyakan wisatawan dan para kapitalis. Terkenal memiliki ombak yang cocok untuk para peselancar, pantainya yang menawan, serta jajaran pulaunya nan menggoda. Apa jadinya apabila mereka memisahkan diri? Kita sama-sama tahu apa yang akan terjadi. 

Bagaimana nasib saudara-saudara kita itu nantinya? Kita juga ikut bertanggung jawab atas kemalangan yang mengintai dan menimpa mereka apabila hal tersebut benar berlaku.

Sebaik-baik perkara ialah yang di tengah-tengah. Kenapa tidak kita pertahankan sahaja nama Daerah Istimewa Sumatera Barat dan sertakan pula Kabupaten Istimewa Kepulauan Mentawai di dalamnya. Supaya dapat menjadi bekal untuk menjawab apabila para SEPILIS mulai mendakwa,

Demikianlah menurut pandangan kami, tapi kalau sidang pembaca mempunyai pendapat dan usulan yang lebih baik, kami bersedia pula mendengarnya.

Foto: tipswisatamurah.com

Baca juga: DIM atau DISB





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...