Langsung ke konten utama

Rohana Koedoes [3]

Sumber Gambar: https://nasional.okezone.com
Kartini atau Rohana
Ditulis oleh Asmanidar, Pemerhati sosial dan Perempuan


Besok, kita akan memperingati hari Kartini. Hari tersebut merupakan tanggal lahir perempuan pada 21 April 1879, yang selama ini dijadikan sebagai titik tolak untuk inspirasi dan kekuatan moral bagi kaum perempuan di Indonesia. Lahirnya Raden Ajeng Kartini yang dijadikan sebagai srikandi Indonesia yang begitu dipuja. Sungguh luarbiasa, seorang Kartini melalui kumpulan surat-menyuratnya “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi inspirasi dan ilham bagi jutaan perempuan Indonesia untuk dapat sejajar dengan kaum pria. 

Namun dalam tulisan ini, saya ingin sedikit memberikan penyadaran bahwa kita harus mengakui sebuah pepatah, “Tungau di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak”.[1] Begitu mengagungkan Kartini, kita seakan lupa akan sebuah mutiara Ranah Minang sendiri. Dia Rohana Kudus, seorang srikandi Ranah Minang yang di kampungnya sendiri (Sumbar) malah juga tak begitu dikenal. Tidak banyak dari kita yang tahu siapa gerangan Rohana Kudus. Menyebut namanya, di tingkat lokal saja, kita mungkin cuma tahu, itu adalah nama jalan, nama gedung, nama usaha kripik balado di Kota Padang, dan sebagainya. Tapi soal kiprahnya? Hanya segelintir yang tahu, itupun mungkin tidak persis detilnya.

Perempuan yang lahir di Koto Kadang, Bukittinggi 20 Desember 1884, adalah anak sulung dari pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam ini adalah wanita multi intelegensi. Bukan saja tercatat sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia saja dengan mendirikan surat kabar Sunting Melayu,[2] dia juga menjadi pelopor pendidikan dengan mendirikan sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia (KAS) yang merupakan permulaan industri rumah tangga (home industry) di Minangkabau dan penggerak politik perempuan pertama di ranah Minang.

Bagaimana dengan Kartini, ternyata orang yang selama ini dipuja-puja sebagai perintis emansipasi wanita di tanah air, ternyata kalah start dari Rohana. Jauh sebelum Kartini menuntut ilmu di sekolah perempuan Rembang, Rohana Kudus dan teman-temannya telah merintis ‘komunitas’ perempuan Koto Gadang untuk melek huruf! Tapi Kartini, malah rela dipingit, lalu menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri.

Tapi bayangkan betapa hebatnya kakak tiri Sutan Syahrir (perdana menteri pertama RI) ini, di saat yang lain belum melek membaca, alias buta aksara, dia sudah tampil sebagai “guru kecil” di usianya yang masih 8 tahun di tahun 1892. Kepadanya, rekan-rekan sebayanya belajar bermain sambil membaca.

Di usianya yang matang, sebelum dan setelah menikah dengan Abdul Kuddus, melalui perjuangan hidup yang jatuh bangun, mengalami berbagai benturan sosial dengan pemuka agama, adat, dan masyarakat umum, Rohana dipuji dan dikagumi, tetapi sekaligus difitnah dan dicaci maki, sehingga terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Dia tetap berjuang, malah mendirikan Rohana School, sekolah kepandaian perempuan di Bukittinggi.

Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukik Tinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payokumbuah dengan kereta api.

Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuak Pakam dan Kota Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Cina Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatra. Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa yang diperjuangkannya.

Penghargaan dari Pemprov Sumbar juga pernah didapatkannya, yaitu pada 17 Agustus 1974 sebagai wartawati pertama. Dan pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan, Harmoko telah pula menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Bagaimana dengan Kartini, kumpulan surat-menyuratnya yang keasliannya sampai saat ini sulit ditunjukkan menjadi pahlawan perempuan sampai menjadi salah satu hari besar Indonesia. Sedangkan Rohana…. (***)



___________________________________
Disalin dari kiriman Irwan Effendi 
Pada hari Ahad 22 Jumadil Akhir 1441/ 16 Februari 2020

__________________________________

Catatan kaki oleh Agam van Minangkabau:

[1] Pepatah ini selama ini digunakan untuk orang yang suka mencela orang lain namun lupa dengan kekurangan dirinya yang bisa sahaja lebih besar dari kekurangan orang yang dicelanya. Pada tulisan ini mungkin yang dimaksud oleh penulis ialah sikap orang Minangkabau selama ini yang ikut-ikutan merayakan Hari Kartini, mengagung-agungkan, dan bahkan cenderung memuja  sosoknya tersebut. Padahal di kampung halaman mereka sendiri sudah ada contoh teladan yang jauh lebih baik dan lebih nyata jerih payahnya apabila dibandingkan dengan sosok yang selama ini mereka puja. Mungkin ini merupakan akibat pengaruh dari 'sentralisasi' dan 'jawanisasi' yang sejak puluhan tahun yang lalu berlangsung di Ranah Minang hingga kini, dan entah sampai kapan akan terus berlangsung.

 [2] Surat kabar tersebut kepunyaan Datuk Sutan Maharaja dan Rohana Kudus menjadi radaktur sekaligus pemimpin surat kabar tersebut.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...