Langsung ke konten utama

Rohana Koedoes [2]

Sumber Gambar: https://padangkita.com


Wartawan Perempuan Pertama itu Diusulkan Jadi Pahlawan
oleh : Maryulismax


TAK banyak yang tahu siapa gerangan Rohana Kuddus. Menyebut namanya, di tingkat lokal (Sumbar-red), orang hanya tahu nama itu melekat sebagai nama jalan, nama gedung, nama usaha kripik balado di Kota Padang, dan sebagainya. Soal kiprahnya? Hanya segelintir yang tahu, itupun mungkin tidak persis detilnya.

Ternyata, wanita penyandang nama Rohana Kuddus ini, betul-betul amazing (luar biasa) untuk eranya -dan juga mungkin untuk era sekarang-, bila melihat kiprah hidupnya. Lahir di Koto Gadang, Bukittinggi pada 20 Desember 1884, Rohana ternyata memang -meminjam istilah zaman sekarang- perempuan multidimensi. Kok?

Anak sulung pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam ini, ternyata bukan hanya tercatat sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia saja dengan mendirikan surat kabar Soenting Melajoe. Menjadi Pemred (pemimpin redaksi) pula. Dia juga menjadi pelopor pendidikan dengan mendirikan sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia yang merupakan permulaan industri rumah (atau bahasa kerennya home industry) di Minangkabau dan penggerak politik politik perempuan pertama di ranah Minang.


Bayangkan. Betapa hebatnya kakak tiri St Sjahrir (perdana menteri pertama RI) ini. Di saat yang lain belum melek membaca alias buta aksara, dia sudah tampil sebagai “guru kecil” di usianya yang masih 8 tahun di tahun 1892. Kepadanya, rekan-rekan sebayanya belajar bermain sambil membaca.

Di usianya yang matang sebelum dan setelah menikah dengan Abdul Kuddus, melalui perjuangan hidup yang jatuh bangun, mengalami berbagai benturan sosial dengan pemuka agama, adat, dan masyarakat umum, Rohana dipuji dan dikagumi, tetapi sekaligus difitnah dan dicaci maki, sehingga terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Dia tetap berjuang, malah mendirikan Rohana School, sekolah kepandaian perempuan di Bukittinggi. Dia pun aktif dalam Partai Pergerakan Bawah Tanah yang menentang kolonial Belanda.

Di saat “perangai” Belanda yang semakin membabi buta, Rohana turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Dia berpartisipasi mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukik Tinggi melalui Ngaraik Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payokumbuah dengan kereta api.

Berakhirkah perjuangan ibu dari Djasma Juni ini? Belum. Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuak Pakam dan Kota Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Dan Pulkam (pulang kampung) 3 tahun kemudian dengan menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Cina Melayu di Padang dan surat kabar Cahaja Sumatra.

Begitulah. Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa yang diperjuangkannya.

Tapi adakah kita tahu lika-liku hidupnya ini? Tidak!! Itu pasti. Padahal Pemrov Sumbar saja pada 17 Agustus 1974 telah menganugerahi dia penghargaan sebagai wartawati pertama. Dan pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan, Harmoko -ketika itu- telah pula menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Itu sebenarnya belum cukup, mengingat begitu besar jasa-jasanya.

Karena itulah, Himpunan Wanita Karya (HWK) Sumbar bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumbar, sedang memperjuangkan Rohana Kuddus untuk menjadi pahlawan nasional. Dia pantas disejajarkan dengan RA Kartini, Dewi Sartika, maupun Maria Walanda Maramis yang memperjuangkan pendidikan perempuan.

Sebagai langkah lanjutan menuju pengakuan itu, HWK dan PWI akan menggelar seminar nasional tentang Rohana Kuddus pada 24 Mei mendatang di Aula Kantor Gubernur Sumbar. Persyaratan lain sebagai persyaratan administrasi meluluskan Rohana sebagai pahlawan juga sudah diretas. Di antaranya penerbitan buku biografinya, dokumennya, rekomendasi dari lembaga terkait, kajian sejarahnya, dan sebagainya. Dan Insya Allah, kita tinggal menunggu, satu lagi barisan pahlawan nasional berasal dari ranah Minang tercinta ini. (max)

___________________________________
Disalin dari kiriman Irwan Effendi 
Pada hari Ahad 22 Jumadil Akhir 1441/ 16 Februari 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...