Langsung ke konten utama

Teguran Allah Ta'ala

Ilustrasi Gambar: https://dunia.tempo.co
KETIKA ALLAH SWT  TAK MAU MENERIMA KITA DI RUMAHNYA.
TANYA KENAPA.

Allah SWT menurunkan mahluk-Nya yang tak dapat dilihat mata karena terlalu kecil bernama CORONA di awal November [2019] di sebuah negeri yang tak mengenalNya : Wuhan [Cina]. Kini si mahluk kecil itu memporak porandakan segala sendi kehidupan 2/3 dunia. Ekonomi global mengalami anomali yang sulit dinalar. Ketakutan dimana mana. Kematian cukup banyak hanya dalam waktu singkat saja.

Saat umrah dilarang oleh otoritas Saudia, kita masih tidak terlalu risau karena hanya orang mampu dan terpanggil yang bisa melakukannya. Kita masih bisa berapologi "Ah.. umrahkan tak wajib. Lagipula Rumah Allahkan bukan cuma di Mekkah, Madinah masih ada Masjid-masjid. Tak masalah Umrah ditutup..."


Pada detik itu, Hanya berfikir : Allah menutup pintu rumah besarNya hanya untuk kaum - kaum jauh.
Allah hanya memberikan kesempatan pada penduduk sekitar dan para pelayan sejati yang diperbolehkan bertawaf di baitul atiqNya.

Namun tadi malam,[1] Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pelarangan[Shalat Jum'at tidak dilarang oleh MUI. Baca catatan kaki No.2] Shalat Jumat, Tarawih Ramadhan dan pelaksanaan Shalat Iedul Fitri untuk daerah terdampak Corona yang ditetapkan pemerintah.  Dan bisa jadi meluas dari yang sekarang. Bahkan Mudikpun akan dilarang.[3]

Bertanya dalam renung. Apakah Engkau marah Rabb-ku? Ketika sebelum ini, Masjid-masjid megah namun sepi. Mushalla-mushalla bertebaran namun berdebu. Tarawih ramai namun hanya di awal Ramadhan. Lebaran katanya mudik, namun tetap hanya notifikasi WA-lah yang saling bermaafan.[4]
Ya Rabb..

Saat tak dibebaskan lagi bagi kami bersujud di rumahMu yang suci, saat terbatasi bagi kami berjamaah dengan para jamaah saudara seiman kami. Baru kami faham Arti Kehilangan.

Betapa mulai sunyi pengeras suara masjid disekitaran kami dari celoteh kanak-kanak dan [kalimah] pujian-pujian. Betapa sepi jalanan depan rumah kami dari ramainya TPA [Taman Pengajaran Al Qur'an] dan ibu-ibu yang hendak pengajian. Betapa terasa saat semua hal yang selama ini kami abaikan itu, telah selanjutnya jadi pelarangan.

Nikmat yang Dicabut itu, Barulah menggerogoti Relung Kedamaian..

Ya Allah,
Pesan Cinta apa yang ingin Kau sampaikan?

Atau memang sudah tak sudi lagi, Engkau melihat wajah kami, mendengar keluh kesah kami, menatap tangis kami dan meraba senyum bahagia kami di Rumah-rumah Mu?

Ya Rabb sekarang kami bisa merasakan bagaimana perasaan saudara kami di Uiyghur, Myanmar, Suriah dan Palestina yang harus berjuang untuk bisa berada di masjid-masjid Mu.

Sementara kami,
Malah sering dan seringkali malas menuju masjid yang hanya beberapa langkah dengan aman dan nyaman.

Ya Rabb kini kami sadar arti silahturahmi yang dulu kami anggap hanya basa basi. Sekarang kami tak bisa dalam kerumunan dan forum dakwah yang mendatangkan banyak orang lagi.

Corona.. Mahluk Kecil Tak Nampak oleh Mata.. Namun mampu merusak Tatanan Ketenangan dunia..

Ya Rabb jangan kau buat ramadhan kami nanti akan terasa sepi hambar. Membayangkan tak ada sholat taraweh berjamaah, tadarrus ramai ramai, dan membangunkan sahur sambil berkeliling kampung. Apalagi membayangkan : Tak ada lagi mudik berdesakan.

Jangan ya Rabb...
Jangan ya Rabb...
Jangan Kau cabut Nikmat yang berpuluh tahun kami nikmati namun telah kami abaikan..

Apa Engkau Menyentil kami?
Ketika ada kesempatan,
Kami malah cukup mengumbar WA KoPas-an untuk bermaafan?

Apa Engkau MengKapoki kami?
Ketika takziah yang 1 kota saja,
Kami hanya titip kalimat Innalillah melalui Grup Rekan dan Teman?

Jangan Kau cabut Nikmat ini ya Rabb..
Karena kini, kami akhirnya benar-benar hanya bisa bertemu dalam tegur WA atau Kalimat Telpon dan Pesan..

Engkau menuruti kami Ya Rabb..
Menuruti pengabaian kami..
Yang kami ciptakan sendiri..

Maafkan kami Rabbi..
Maafkan kami..

Masihkah ada kesempatan lagi?
Bukankah Maha PengasihMu,
Melebihi MurkaMu pada kami ?

Ya Rabb..
Hidupnya Mahluk Corona adalah semata mata atas KehendakMu.
Engkau yang Menghidupkan segalanya..
Engkaupun yang Mematikan segalanya..

Mohon Ya Rabb
Panggil kembali mahluk corona ke tubuh tubuh hewan seperti sebelumnya.
Cukupkan tugas mereka untuk mengingatkan kami semua.

Ya Allah,
Berilah obat untuk wabah ini.
Dan Berilah tobat bagi kami..

Pertemukan kami dengan ramadhan penuh berkah,
Tanpa Corona antara Kita.

Aamiin ya rabbal alamin.

______________________________

Kata atau huruf dalam [] ditambahkan oleh Agam van Minangkabau.
 
Catatan Kaki oleh Agam van Minangkabau:

[1]Fatwa dikeluarkan hari Senin tanggal 16 Maret 2020 dan Pemerintah PRov.DKI mengumumkan untuk tidak melaksanakan Shalat Jum'at pada hari Kamis tanggal 19 Maret 2020.

[2] Fatwa Majelis Ulama Indonesia tanggal 21 Rajab 1441/ 16 Maret 2020  No. 14 Th.2020 menjelaskan tentang pelaksanaan Shalat Jum'at dalam masa Wabah Covid-19 menerpa. Banyak kiriman di Media Sosial atau Grup Percakapan Instan yang mengatakan kalau MUI melarang Shalat Jum'at, setelah kami cermati sama sekali tidak ada kalimat pelarangan melainkan petunjuk tentang pelaksanaan Shalat Jum'at yang disesuaikan dengan keadaan pada tiap-tiap daerah. Silahkan baca point.4 & 5 pada Memutuskan bagian Kedua.

Point. 4:
Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan  yang  mengancam  jiwa,  umat  Islam  tidak  boleh menyelenggarakan  shalat  jumat  di  kawasan  tersebut,  sampai keadaan menjadi normal kembali dan  wajib menggantikannya dengan  shalat  zuhur  di  tempat  masing-masing.  Demikian  juga tidak  boleh  menyelenggarakan  aktifitas  ibadah  yang melibatkan  orang  banyak  dan  diyakini  dapat  menjadi  media penyebaran  COVID-19,  seperti  jamaah  shalat  lima waktu/rawatib,  shalat  Tarawih  dan  Ied  di  masjid  atau  tempat umum  lainnya,  serta  menghadiri  pengajian  umum  dan  majelis taklim.  

Point. 5
Dalam  kondisi  penyebaran  COVID-19  terkendali,  umat  Islam wajib  menyelenggarakan  shalat  Jumat  dan  boleh menyelenggarakan  aktifitas  ibadah  yang  melibatkan  orang banyak,  seperti  jamaah  shalat  lima  waktu/rawatib,  shalat Tarawih  dan  Ied  di  masjid  atau  tempat  umum  lainnya,  serta menghadiri  pengajian  umum  dan  majelis  taklim  dengan  tetap menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19.

[3] Tujuan dilarang melakukan segala aktifitas di luar rumah dan menganjurkan 'home schooling', bekerja dari rumah, dan lain sebagainya ialah untuk mengurangi penularan mengingat virus ini menular melalui sentuhan. Dan masing-masing orang banyak meninggalkan jejak berupa sentuhan, apakah itu pada pegangan (pintu), perkakas yang digunakan bersama, dan yang paling banyak tidak disadari ialah 'uang' yang dengan begitu cepat berpindah tangan. Selain itu apabila si penderita bersin maka cairan yang dikeluarkan dari dalam tubuhnya dapat bertahan di luar selama 9 (sembilan) jam. Pelarangan untuk 'mudik' atau pulang kampung ialah agar jangan sampai virus tersebut terbawa ke kampung halaman. Gunanya untuk melindungi orang tua, keluarga, orang kampung, dan orang-orang yang dicintai di tanah kelahiran.

[4] Pada saat hari raya, semestinya dimanfaatkan untuk bersilaturahim dengan karib, kerabat, & handai taulan di kampung namun pada masa sekarang tujuan mudik bukan untuk bersilaturahim dengan karib, kerabat, & handai taulan melainkan untuk berpesiar dan melancong ke berbagai tempat pelancongan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...