Langsung ke konten utama

Himbauan Kepada Perantau Minangkabau-Covid-19


Gambar: https://www.facebook.com

IMBAUAN GUBERNUR SUMATERA BARAT
Nomor: 050/ 078 /BKPdR/III-2020

Menyikapi kondisi, masukan dan aspirasi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Sumatera Barat akhir-akhir ini sekaitan dengan penanganan antisipasi penyebaran Corona Virous Disease (Covid) 19 di Sumatera Barat, maka dengan ini diimbau kepada seluruh Ketua Organisasi Masyarakat Minangkabau, tokoh masyarakat dan para perantau Sumatera Barat dimanapun berada kiranya dapat mempertimbangkan untuk sementara tidak pulang kampung ke Sumatera Barat.

Berikut Imbauan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat Buya Gusrizal Gazahar seperti di bawah ini:


IMBAUAN
BUYA GUSRIZAL GAZAHAR
KETUA MUI SUMBAR

Kepada saudara-saudara perantau yang berada di daerah wabah COVID 19, agar mempertimbangkan kembali rencana kepulangan karena bisa membawa mudharat bagi keluarga di kampung !

Rasulullah saw bersabda:

"Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri maka jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya” (HR. al-Bukhari & Muslim).
Dari Yahya bin Ya’mar, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan kepadanya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw tentang ath-tha’un (wabah yang menyebar dan mematikan), maka beliau menjawab, “Itu adalah adzab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya namun Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Tidaklah seorang hamba berada di suatu negeri yang terjangkit wabah di dalamnya dan ia menetap di dalamnya, tidak keluar dari negeri tersebut dalam keadaan bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah serta meyadari bahwa tiada satupun yang akan menimpanya melainkan apa yang telah dituliskan Allah untuknya, melainkan orang itu mendapatkan pahala orang yang syahid.” (HR. al-Bukhari)

Maka dengan ini, pemerintah provinsi Sumatera Barat:

1. Mendukung Imbauan Buya Gusrizal Gazahar selaku Ketua MUI Sumbar dimaksud.
2. Imbauan ini bersifat sementara, sampai kondisi sudah dinyatakan kondusif oleh pemerintah.
3. Tujuan mendukung Imbauan Ketua MUI ini adalah untuk memutus kemungkinan penyebaran Covid-19 ke Sumatera Barat yang Alhamdulillah sampai saat ini (Selasa, 24 Maret 2020) masih negatif dan kita berharap dan berdoa semoga tidak ada kasus positif Covid-19 di Sumatera Barat.
4. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga mengimbau seluruh komponen masyarakat, baik yang di ranah ataupun di rantau, untuk saling bahu membahu membantu agar penyebaran Covid-19 tidak terjadi di Sumatera Barat.
5. Kami yakin dan percaya bahwa Imbauan MUI serta dukungan masyarakat baik di Ranah dan di Rantau adalah wujud dari kecintaan dan rasa sayangnya terhadap dunsanak kita yang ada di Ranah Minangkabau.
6. Dengan wabah ini, mari kita tingkatkan keimanan dengan memperbanyak ibadah dan doa selain kewaspadaan. Juga sabar serta bersangka positif kepada Allah SWT, agar kita mendapatkan hikmah dan rahmat bahkan pahala dari Nya.

Demikian imbauan ini disampaikan, semoga Allah SWT merahmati kita semua. Aamiin…

Ditetapkan di Kota Padang
Tanggal, 24 Maret 2020

GUBERNUR SUMATERA BARAT,

IRWAN PRAYITNO
____________________________

Disalin dari kiriman facebook: Jasman Rizal
Diterbitkan pada 23 Maret 2020


Sumber Gambar: https://www.facebook.com

Imbauan Kepada Perantau Minangkabau.
.
Mengingat semakin meluasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia dan banyaknya warga Sumatera Barat yang merantau di daerah-daerah yang saat ini sudah terpapar virus tersebut, maka bersama ini kami sampaikan kepada Bpk/Ibu/Sdr dan Dunsanak kami dimanapun berada, bahwa berdasarkan :
.
1. Hasil rapat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 23 Maret 2020 mengenai Pencegahan Penyebaran COVID-19.
.
2. Hadis Nabi besar Muhammad SAW yang berbunyi:

 “Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri, maka jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah wabah itu, janganlah kalian keluar untuk lari darinya”, (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di Provinsi Sumatera Barat, dengan ini kami mengimbau kepada para Perantau Minangkabau dimanapun berada, agar sementara waktu menunda/mempertimbangkan kembali rencana kepulangan ke kampung halaman, sampai evaluasi lebih lanjut oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
.
Demikian disampaikan, untuk dapat dimaklumi, terimakasih.

________________________

Disalin dari kiriman Facebook Kabar Minang
Diterbitkan pada hari Senin 23 Maret 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...