Langsung ke konten utama

Framing Si Jahil

Sumber: https://www.facebook.com
"Dua Tahun Rasulullah saw Menolak Shahabat Beliau Memasuki Kota Madinah".

Di antara butir perjanjian Hudaibiyyah yang merupakan satu-satunya perjanjian antara Rasulullah saw dengan kaum Qureiys (th 6 H) adalah :

"Siapa saja yang melarikan diri dari kaum Qureisy untuk bergabung dengan Muhammad, ia harus dikembalikan kepada kaum Qureisy sedangkan siapa saja yang melarikan diri dari Muhammad untuk bergabung dengan kaum Qureisy, tidak dikembalikan kepada Muhammad".

Suatu kesepakatan yang timpang dan tidak berimbang namun Rasulullah saw menyetujuinya.


Akibat dari butir perjanjian itu berdampak kepada kaum muslimin yang selama ini tertahan di Makkah dalam penderitaan, salah satunya adalah Abu Bushair ra.

Abu Bushair ra sempat lolos dari tahanan dan melarikan diri ke Madinah namun ia heran dengan sikap Rasulullah saw yang mengembalikan dirinya kepada kaum musyrikin.

Dengan menghiba Abu Bushair ra berkata; 

يا رسول الله؛ أتردني إلى المشركين يفتنوني في ديني؟!
 
"Ya Rasulallah, apakah engkau akan mengembalikan aku kepada kaum musyrikin yang akan menimbulkan fitnah kepada agamaku ?".

Namun Rasulullah saw tetap dengan pendirian beliau, sambil berkata;

‎إنا لا نغدر، فالحق بقومك
 
"Seseungguhnya kita tidak (boleh) berkhianat (dengan janji), kembalilah kepada kaummu (di Makkah)".

Beliau juga mengatakan:�«يَا أَبَا بَصِيرٍ، انْطَلِقْ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى سَيَجْعَلُ لَكَ وَلِمَنْ مَعَكَ مِنَ المُسْتَضْعَفِينَ فَرَجًا وَمَخْرَجًا»
 
"Wahai Abu Bushair, berangkatlah (tinggalkan Madinah) maka sesungguhnya Allah Ta'ala akan memberikan kelapangan dan jalan keluar untukmu dan orang yang bersamamu dari kalangan orang-orang yang lemah".

Kisah ini sengaja saya ingatkan kembali karena ada framing seolah-olah menolak kehadiran para turis dari Cina yang kebetulan di dalamnya dikhabarkan ada orang-orang Islam, bagaikan sikap tak berperasaan, bertindak karena SARA dan tidak menghargai ukhuwwah antara saudara seiman. 

Padahal sudah dijelaskan dalam maklumat MUI Sumbar point 4 bahwa ini adalah petunjuk sunnah Rasulullah saw terkait isolasi daerah terjangkit wabah tanpa harus membedakan suku, adat, ras, dan agama.

Cara-cara seperti ini sangatlah tidak bagus untuk menghadapi reaksi sebagian masyarakat.
Apakah penolakan itu mesti dihadapi dengan photo-photo selfi sesudah sholat yang berarti kekhawatiran terhadap wabah, sudah selesai ?!

Kemudian tertudinglah orang-orang yang menolak, seperti tidak mengerti ukhuwwah dan tidak berpersaan ?

Kalau demikian, BAGAIMANA DENGAN SIKAP RASULULLAH SAW YANG MENOLAK ORANG-ORANG ISLAM (SHAHABAT BELIAU) YANG LOLOS DARI MAKKAH DAN INGIN BERGABUNG HIDUP DENGAN SAUDARA-SAUDARA MEREKA KAUM MUSLIMIN DI MADINAH ???

Jadilah pemimpin yang bijak !!!

Sudah sekian kali "kebetulan" dalam memenuhi ajakan pebisnis wisata bahkan sudah pula disambut dengan tari gelombang, tak usah lagi dipakai cara berlebihan seperti itu !

Yang tuan-tuan ingin lecehkan dengan "cerita uraian air mata" itu adalah aspirasi mereka yang telah menjadi saudara tuan-tuan selama berpuluh tahun, hanya demi saudara baru bertemu selama dua hari.
Kalaupun air mata tuan menetes, tak perlulah tuan ceritakan dengan cara mempertontonkan seperti itu karena ada manusia yang lebih banyak gelisah dibandingkan puluhan orang yang tuan-tuan bela.

Allah swt jadi saksi atas kegelisahan saya melihat sikap pemimpin yang berpantang menerima nasehat.

______________________________________

Disalin dari Facebook Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa
Diterbitkan tanggal: Kamis, 30 Januari 2020

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...