Langsung ke konten utama

Hari Rayo Anam (Hari Raya Enam)




Pada masa dahulu, sepekan setelah hari raya besar/ Hari Rayo Gadang (Aidul Fitri), selepas menunaikan puasa di bulan Syawal, dirayakanlah hari raya yang bernama Hari Rayo Anam di negeri Minangkabau. Pada masa Hari Rayo Anam segala karib-kerabat dan handai-taulan yang tak terjelang semasa Hari Rayo Gadang diziarahi. Maka kembali ramailah orang perempuan menenteng bungkusan yang akan dibawa menjelang ke rumah karib kerabat tersebut.

Corak perayaan Hari Rayo Anam berbeda-beda pada setiap negeri di Minangkabau ini, seperti yang diselenggarakan di Luhak Tanah Data dan Negeri Kampar dimana diadakan ziarah kubur.

Pada masa dahulu di negeri Minangkabau, apabila beraya ke rumah kerabat maka pastilah dijamu dengan hidangan rendang, gulai, pangek, dan lain sebagainya. Dan kita nan datang bertandangpun mesti makan sebab apabila tidak maka akan sedihlah hati kerabat nan telah bersedia menyambut tersebut. Orang yang tak makan di rumah yang diziarahinya tatkala raya berarti tak memiliki hubungan karib kerabat melainkan hubungan perkawanan atau kenalan biasa. Dengan menyantap hidangan pertanda dekat dan rapat hubungan kita.


Oleh karena itu, tak cukuplah masanya untuk menziarahi seluruh karib kerabat nan banyak jumlahnya itu pada hari raya besar. Sehari hanya beberapa rumah yang terjelangi, apalagi jumlah kue hari raya bertambah banyak dan beragam rasanya hingga berkurang jualah kemampuan lambung itu menampung makanan nan dimakan.

Maka dari itu, Hari Rayo Anam menjadi kesempatan dalam menziarahi kaum kerabat nan tak terjelang tersebut.

Itu dahulu, kini..?

Kini merekapun tak sadar kalau sudah masuk Hari Rayo Anam, bahkan ada nan tak tahu dengan hari raya tersebut. Adat telah ditinggalkan, gonjong telah dirubuhkan, Minangkabau tinggal kenangan..

Baca Juga Ragam Hari Rayo Anam pada beberapa daerah di Minangkabau:
  1. https://www.tanahdatar.go.id/berita/1217/mandoa-katompat-tradisi-adat-rayo-anam-jorong-sikaladi.html
  2. http://www.pasbana.com/2016/07/tradisi-adat-rayo-anam-jorong-sikalad.html
  3. http://riaumandiri.co/read/detail/15628/jefry:-pahami-filosofi-hari-raya-enam.html




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...