Langsung ke konten utama

Tugu Polwan


TUGU POLWAN
Polwan (Polisi Wanita) itu lahir di Bukittinggi, tugu ini diresmikan tanggal 27 april 1993 oleh kapolri jendral Pol.Barusman, terletak di Jl.Jendral Sudirman di persimpangan jalan stasiun. Polwan lahir 01 September 1948 merupakan perwujudan cita-cita ibu Kartini selanjutnya penggerak untuk lahirnya Kowad, Kowal dan Wara.
Setelah Indonesia merdeka timbul gagasan dan organisasi wanita .dan Wanita Islam mengajukan permohonan kepada Pemerintah untuk mengikut sertakan wanita dalam dalam Pendidikan kepolisian, Hal tersebut diajukan karena kurang pantas seorang laki-laki bukan muhrim memeriksa badan wanita dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan wanita.
Polwan direkrut dari lulusan Mulo dan sederajat yang mengikuti Kursus Inspektur Polisi bergabung dengan pria. Perintis Polisi Wanita pertama yang kukus sebanyak 6 orang Perwira pertama yaitu :
1.      Ny.Nelly Padma Situmorang
2.      Ny.Mariana Mufti
3.      Ny.Djasarainar Husein
4.      Ny.Rosmalina Pramono
5.      Ny.Rosnalia Taher
6.      Ny.Dahniar Sukotjo

ARTI BENTUK MONUMEN
1.      Tinggi monumen 7 meter : gambaran pedoman ABRI, Sapta marga
2.      Lantai dasar bersusun 5 : GAMBARAN Pancasila
3.      Kaki tugu segi enam : gambaran Perintis polwan

4.      Alas tugu terdiri 8 buah piring datar segi 6 bersusun 9, dan tubuh tugu berbentuk kerucut, puncak tugu berkelopak bunga 4 buah, daun bunga 8 helai dilengkapi sebuah perisai melambangkan tahun 1948 lahirnya polisi Wanita (Polwan).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...