Langsung ke konten utama

Monumen Dr. Achmad Muchtar

Foto: http://nulis.co.id
MONUMEN Dr.ACHMAD MUCHTAR

Terletak dihalaman depan Rumah sakit Dr.Achmad Muchtar Bukittinggi di jalan Dr.A.Rivai. Monumen ini di bangun untuk mengenang jasa dari Dr. Ahmad Muchtar seorang dokter berasal dari Nagari Bonjol yang merupakan tamatan Universitas Boekandel Amsterdam Negeri Belanda. Lahir pada tahun 1992 di Nagari Bonjol, dan menamatkan studi kedokteran di STOVIA pada tahun 1916. Kemudian beliau mengambil 2 tahun penempatan wajib di salah satu klinik Panyabungan di Sumatera Utara.

Dr. Ahmad Muchtar menyelesaikan studinya di Negeri Belanda pada tahun 1927. Pada tahun 1937 beliau  bergabung dengan fasilitas penelitian Biomedik The Central Medical Laboratory yang pada tahun 1939 namanya diubah menjadi Institut Eijkman.


Ketika Jepang masuk mengambil alih kekuasaan Belanda, mereka menangkapi seluruh orang Belanda. Akibatnya W.K. Martens yang merupakan Direktur Institut Eijkman digantikan posisinya oleh Dr. Ahmad Muchtar. 

Dimasa inilah kebesaran, tanggung jawab, dan kepemimpinan Dr. Ahmad Muchtar terlihat. Beliau mengambil resiko untuk mengakui kegagalan vaksin yang menyebabkan kematian banyak romusha dengan imbalan nyawa kawan-kawannya diampuni. Kegagalan dari vaksin tersebut bukan karena Dr. Ahmad Muchtar melainkan karena ulah dari Jepang sendiri yang melakukan uji coba vaksin langsung kepada manusia (romusha) bukan hewan. 

Versi lain menyebutkan bahwa Dr. Ahmad Muchtar dan kawan-kawan disuruh untuk membuat dan menyebarkan virus/bakteri TCD. Namun Dr. Ahmad Muchtar menolaknya, walaupun demikian virus tersebut tetap dapat beredar sehingga menyebabkan korban meninggal. Guna menghindari kesaksian Dr. Ahmad Muchtar maka dilemparkanlah tuduhan bahwa beliau dan timnya yang menyebarkan virus tersebut. Yang berujung pada penangkapan dan penyiksaan kepada seluruh tim dengan sangsi hukuman mati. Dr. Ahmad Muchtar membuat perjanjian dengan Jepang bahwa hukuman tersebut beliau sendiri yang menanggungnya dan para peneliti lainnya dibebaskan dari segala tuduhan. 

Pihak Jepang menyetujui dan menghukum mati Dr. Ahmad Muchtar pada tanggal 3 Juli 1945. Pada tahun 1968 Dr. Ahmad Muchtar mendapat penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dan Bintang Jasa Klas III dari Pemerintah Republik Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...