Langsung ke konten utama

Kelalaian Muda-mudi

[caption id="" align="aligncenter" width="700"] Gambar: http://4.bp.blogspot.com/[/caption]

Pada suasana hari raya ini kami hendak membawa tuan dan puan ke masa silam, menyilau masa dahulu dan membandingkannya dengan masa sekarang guna diambil hikmah pelajaran kepada kita semua yang masih mencintai Alam Minangkabau ini. Adalah seorang murid perempuan pada suatu sekolah di Padang yang bernama A. Wahab pulang untuk cuti hari raya pada tahun 1919. Dia tinggal di Padang Panjang namun menyempatkan diri berpesiar ke Buki Tinggi yang terkenal sebagai jantung dari Bovenlanden (Darek).


Ketika berpesiar di Padang Panjang dan Bukit Tinggi dia mendapati suatu keadaan nan mengganggu jiwa keminangkabauannya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis sebuah karangan pada surat kabar Perempuan Bergerak yang terbit pada tanggal 12 Juli 1919, beginilah petikan tulisannya:




Akan tetapi sayang, rupanya diantara encik-encik yang telah mendapat sedikit kebebasan buat menuntut bahasa Barat-Hollandsch ada yang melebihi seakan-akan  hendak menukari Adat kami bangsanya dengan cara kerancak-rancak an (berlebih-lebihan). Seperti tempo vacantie (liburan) sekolah saya pergi ke Bovenlanden, maka di Padang Panjang dan Fort de Kock  banyak bertemu oleh saya gadis-gadis bangsa kita berjalan-jalan dengan bujang-bujang yang bukan familienya, berpasang-pasangan, diantaranya ada pula yang tertawa-tawa dan berpegang pegangan tangan; aduhai dengan menairk nafas yang panjang dan beriba hati saya teruskanlah perjalanan saya melihat-lihat ini dan itu.



Karangan dari Encik A, Wahab ini kemudian mendapat bantahan dari murid sekolah Jongens Normaal School yang bernama Siti Daina Wahab pada terbitan surat kabar Perempuan Bergerak berikutnya, berikut petikannya:




Akhir Mei adalah masa liburan Aidil Fitri, dan sebagian besar murid sudah pulang ke rumah. Lagi pula, murid-murid tidak bisa meninggalkan lahan sekolah tanpa izin dan, bahkan kalaupun ada izin, harus tetap tinggal di Padang Panjang. Guru kami memakai mata-mata.. 



Demikianlah keadaan pada masa itu, entah mana yang benar atau justeru benar kedua-duanya. Sebab apabila kita lihat karangan dari Encik A. Wahab yang menggambarkan keadaan pada bulan Juli sedangkan yang dimaksudkan oleh Encik Daina ialah keadaan pada akhir bulan Mei. Maka tampaknya terpaut satu bulan lebih 12 (dua belas) hari.


Namun setidaknya hal tersebut menjadi pelajaran bagi kita, bahwa keadaan yang berlaku pada masa sekarang sudah sangat parah. Sudah jauh keluar dari Adat kita Bangsa Minangkabau. Dan malangnya kita tampak tak berdaya, menunggu sampai kerusakan menjadi semakin parah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...