Langsung ke konten utama

Orang Nias di Padang

 


Ada semacam pameo yang berkembang di kalangan masyarakat Kota Padang bahwa "orang asli Padang itu orang Nias". Saya pribadi berpendapat bahwa pameo semacam ini "tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak sepenuhnya salah". Pengasosiasian orang Nias sebagai orang asli Padang sebenarnya lebih tepat dibaca sebagai sebuah konstruksi sosial-budaya, bukan sebuah fakta historis-etnografis.

Credit: Roni Hendri
FB SDN Official | Jika kita tarik ke akarnya, saya dapat menguraikannya dalam beberapa poin berikut:
1] Padang, secara adat dan historis, memang merupakan bagian dari wilayah rantau Minangkabau - مينڠكاباو, yang sejak awal terbentuk di bawah beberapa kekuasaan politik yang silih-berganti, yaitu Kesultanan Inderapura Kesultanan Pagaruyung, Kesultanan Aceh dan Kolonial Belanda. Bagaimanapun juga, basis identitas “pribumi” di Padang itu tetaplah Minangkabau, khususnya dari kesatuan Adat Nan Salapan (VIII) Suku yang dibentuk oleh orang-orang Minangkabau Darek yang turun meneroka ke sana.
2] Kedatangan orang Nias ke Padang relatif awal (sekitar abad ke-17), seiring peran VOC yang membuka pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur) dan mempekerjakan tenaga buruh yang mereka datangkan dari Pulau Nias. Status orang Nias memang “pendatang,” tetapi linimasa yang panjang (hampir 400 tahun) membuat keberadaan mereka seakan menyatu dengan denyut nadi kota. Dalam istilah antropologi, mereka bukan “pendatang baru,” melainkan historical migrants—kelompok etnis yang hadir sejak awal terbentuknya kota.
3] Banyaknya terjadi proses malakok sebagai bentuk peleburan sosial-budaya dan perkawinan campuran dengan orang-orang Minangkabau tempatan, membuat banyak orang Nias masuk ke dalam jaringan kekerabatan Minangkabau. Oleh sebab itulah, terkadang batas etnik Nias menjadi kabur di dalam tingkat sosial sehari-hari.
4] Pameo bahwa orang Nias adalah orang asli Padang muncul bukan karena klaim etnik Nias itu sendiri, melainkan sebagai bentuk pengakuan subliminal (bawah-sadar) sosial dari orang-orang Minangkabau bahwa dalam sejarahnya orang Nias punya kontribusi besar dalam pembentukan identitas urban di kota Padang. Dengan kata lain, ini lebih ke simbol keterhubungan—“orang Nias itu bagian dari Padang sejak dulu”—bukan klaim kepemilikan tanah.
Kalau dibandingkan, ini mirip dengan kasus-kasus di beberapa kota lain di Nusantara, semisal:
- Orang Jawa di Medan dan Sawahlunto
- Orang Bugis di Makassar dan Tawau (Sabah)
- Orang Tionghoa di Pontianak dan Bagansiapiapi
- Orang Arab di Pekalongan
Mereka bukan “pribumi adat” setempat, tapi peran historis mereka sangat besar, sehingga muncul identitas bersama yang melebur dengan komunitas lokal.
Jadi, menurut saya, pameo itu justru bukti bagaimana Padang tumbuh sebagai kota kosmopolitan pesisir: di mana orang Minangkabau sebagai tuan rumah, orang Nias sebagai mitra sejarah, dan kemudian bercampur dengan kelompok lain seperti Mandailing, Aceh, Tionghoa, India, dan Jawa.
Di zaman kolonial Belanda, Padang itu kota besar dan paling diperhitungkan dalam administrasi Sumatra's Westkust, dan proses akulturasi etnik di sana tidaklah sesederhana yang kita pikirkan.
CMIIW.

===========

Baca Juga:

  1. Sejarah Kota Padang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...